Sabtu, 13 Juni 2009

Propaganda Indische Partij

Propaganda

INDISCHE PARTIJ

Setelah berrdirinya partai itu pada 6 September 1912, langkah pertama yang ditindakkan para pengurusnya adalah mengadakan perjalanan keliling Jawa untuk berpropaganda. Perjalanan itu dimulai dari Bandung oleh E.F.E. Douwes Dekker, Brunsveld van Hulten dan Van der Poel. Tujuan pertamanya ialah Yogyakarta, untuk diteruskan ke Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan dan Cirebon serta kota-kota lain di Jawa Barat.

Dalam perjalanan yang berlangsung antara 15 September s.d. 3 Oktober tersebut tim pengurus mengadakan rapat di setiap kota yang disinggahi. Segera nyata bahwa sambutan masyarakat dan para pemimpin pergerakan masa itu sangat antusias, dibuktikan dengan hadirnya banyak pemimpin pergerakan dalam rapat dan banyaknya perhimpunan yang mengirimkan wakilnya. Tercatat perhimpunan yang menyokong berdirinya IP adalah Budi Utomo, Insulinde, Sarekat Islam, Kartini Klub, Mangunhardjo, dan Perhimpunan Tionghoa Hweekwan.

Para tokoh perhimpunan pun banyak pula yang terjun langsung membantu IP, di antaranya dr. Tjipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat, dan Abdul Haris dari Bandung sebagai ketua cabang sarekat Islam di kota itu. Lebih dari itu terdapat pula beberapa tokoh yang sangat berpengaruh di masyarakat: R. Pramu di Semarang; R. Soleiman di Boyolali; R. Jayadiningrat (saudara Bupati Serang) di Serang; Redaktur surat kabar “Jawa Tengah”, harian “Pengaman”, dan “Tjahaja Timoer” di Malang dengan pimpinan R. Djojo Sudiro; dan G. Topel, seorang anggota pengurus besar Insulinde.

Sesuai dengan nama perkumpulan itu sendiri, IP menawarkan kesempatan menjadi anggota partai kepada masyarakat luas, yaitu kepada siapa pun yang merasa memiliki tanah air Hindia, yang merasa lahir, hidup, dan akan berpulang di negeri ini. Barang siapa tak dapat masuk perhimpunan Budi Utomo (karena kebetulan ia bukan orang Jawa), maka ia dapat diterima menjadi anggota IP. Demikian pula bagi mereka yang non-muslim (yang tak mungkin menjadi anggota Sarekat Islam).

Adalah masih dalam rangka propaganda juga ketika perhimpunan itu berusaha menarik para anggota Insulinde untuk menjadi anggota IP. Pada saat itu Insulinde telah menjadi organisasi yang kecil karena banyak anggotanya mengundurkan diri, terutama yang “Indo-Belanda totok”. Yang terakhir ini keluar dari keanggotaan karena tak mau bergabung dengan Bumi Putera. Rapat gabungan antara E.F.E. Douwes Dekker, Brunsveld van Hulten dan Van der Poel dengan para pengurus Insulinde pada 17 September 1912 menghasilkan peleburan Insulinde ke dalam IP. Sayangnya – meski antara kedua perkumpulan itu memiliki kesamaan azas - Mr. Jeekel tak dapat menerima keputusan para sejawatnya. Sebagai ketua akhirnya ia mengundurkan diri dan keluar dari keanggotaan Insulinde, untuk selanjutnya membentuk perkumpulan lain bernama “Het Nederlandsch Indische” yang pada akhirnya samasekali tidak berkembang.

Tetapi keberhasilan IP meraih DIB tidaklah sesukses meraih Insulinde. Rapat gabungan antara kedua perkumpulan itu pada 28 Oktober 1912 tidaklah menghasilkan apa-apa – bahkan dinilai gagal – karena memang sejak awal azas dan tujuan keduanya berbeda.

De Express dan Het Tijdschrift

Tetapi kegagalan dengan DIB bukanlah sesuatu yang berarti bagi IP. Propaganda demi propaganda yang mereka lakukan membuat jumlah anggota terus bertambah dari hari ke hari. Corong perkumpulan mereka – Koran De Express dan Het Tijdschrijft yang diketuai Douwes Dekker – digunakan secara optimal untuk menarik calon anggota lebih banyak.

Sedikit melihat ke belakang, De Express didirikan Douwes Dekker tanggal 1 Maret 1912 setelah ia meninggalkan Bataviaasch Newsblad pimpinan Jaalberg yang terlalu mementingkan golongan Indo. Sejak berdirinya harian itu Douwes Dekker menyediakan ruangan khusus dalam koran itu untuk propaganda Budi Utomo. Ia menggunakannya sebagai corong bagi cita-cita politiknya. Dan suaranya pun kian bergema manakala ia memimpin pula majalah bulanan Het Tijdschrift.

Teristimewa sejak bulan Maret itu para pembaca telah disuguhi tulisan-tulisan dan opini yang isinya seolah merupakan ancang-ancang pimpinannya untuk mendirikan suatu partai yang bersifat nasionalis. Tulisan-tulisan dan opini itu pada dasarnya isinya berkisar pada tiga hal yang saling berhubungan:

  1. Pelaksanaan suatu program Hindia untuk setiap gerakan politik yang sehat dengan tujuan menghapuskan kolonialisme;
  2. Menyadarkan golongan Indo dan penduduk bumi putera bahwa masa depan mereka terancam oleh bahaya yang sama, yaitu eksploitasi kolonial;
  3. Alat untuk melaksanakan hal-hal tersebut (1 dan 2) ialah dengan membentuk suatu perhimpunan yang bersifat nasionalisme.

Maka berdirinya IP pada 6 September 1912 seolah merupakan pengejawantahan dari apa yang telah pimpinannya rencanakan lewat opini-opini di kedua mass media itu, dan tampak kini seakan IP merupakan kekuatan nyata untuk melaksanakan segala program yang telah diutarakan.

Tak heranlah jika berdirinya IP akhirnya memancing dan mengundang perhatian masyarakat luas, karena sejak berbulan-bulan sebelumnya mereka telah mengira bahwa organisasi semacam ini akan muncul dari orang yang selama ini mereka kenal sebagai cucu dari kakak tertua Ernest Douwes Dekker (Multatuli, pengarang Max Havelaar) yang keberpihakannya pada kaum bumi putera tak diragukan lagi.

Kini, setelah IP eksist di tengah kanca politik, organisasi itu pun secara bebas dan terbuka menyiarkan propaganda partai, disisipi pula dengan tulisan dan opini-opini yang membangkitkan rasa cinta tanah air kepada semua Hindia Putera, dan ajakan menggalang kerjasama yang erat antara mereka demi kemerdekaan yang tengah diperjuangkan. Tak urung pula di dalam harian dan bulanan itu para pemimpinnya membeberkan cita-cita politiknya, bercampur dengan kecaman-kecaman terhadap poltik pemerintah.

Dr. Tjipto dan Suwardi Suryaningrat

Seluruh apa yang disuarakan IP lewat berbagai macam cara itu agaknya bersesuaian benar dengan jiwa dr. Tjipto Mangunkusumo yang sejak 1909 meninggalkan Budi Utomo akibat perbedaan paham dengan dr. Radjiman Wedjodipuro. Dokter yang berwatak keras dan tak pernah kenal takut itu telah lama menahan diri untuk berpolitik tegas, dan meng-inginkan adanya perhimpunan seperti IP. Agaknya dr. Tjipto tidak sendiri. Ia mendapat dukungan moril dari sahabatnya, Suwardi Suryaningrat, bangsawan dari Pura Paku-alaman, Yogyakarta, yang berwatak keras dan tegas namun amat lembut dalam penam-pilan.

Kedua orang yang dikenal sangat revolusioner itu sangat berkenan di hati Douwes Dekker sehingga menyambut keduanya ketika menyatakan diri berniat menggabung dalam IP. Sehinggalah sejak Desember 1912 ketiganya menjadi pengurus harian De Express, dan koran itu pun berubah haluan menjadi nasionalistis-revolusioner sesuai dengan watak pengendalinya terhadap persoalan Hindia.

---0---

5 komentar:

  1. Senang dapat berjumpa dengan Anda...
    semoga suatu saat dapat bertemu di daratan...

    BalasHapus
  2. sebagai sesama kawan mari kita terus berkiprah dalam mengembangkan pengetahuan

    BalasHapus
  3. hmmm ... salam kenal pak margani. sungguh senang bisa bersilaturahmi dg rekan sejawat di lapung, meski baru sebatas di dunia maya.

    BalasHapus
  4. Hallo PAK Margani. Masih rajin nulis? Tetap semangat. Kapan ke Mojokerto?

    BalasHapus
  5. Ijin copy untuk tugas sekolah pak, terimakasih banyak infonya :)

    BalasHapus